HASIL SURVEI Golkar Unggul, Demokrat Anjlok

HASIL SURVEI
Golkar Unggul, Demokrat Anjlok

Maruarar Sirait, Ketua DPP Bidang Pemuda dan Olahraga PDIP

Jumat, 8 Juni 2012

JAKARTA (Suara Karya): Kaum muda yang merupakan pemilih pemula atau pemilih yang baru pertama kali menggunakan haknya pada pemilu legislatif lebih memilih Partai Golkar ketimbang PDI Perjuangan dan Partai Gerindra. Sementara Partai Demokrat kian anjlok tingkat elektabilitasnya di kalangan pemuda.

Hal ini merupakan hasil survei yang diselenggarakan IndoBarometer bekerja sama dengan PDI Perjuangan yang disampaikan di Jakarta, Kamis (7/6).

“PDIP harus akui, Partai Golkar lebih unggul dan teratas dalam survei ini. Sementara PDIP berada di urutan kedua kalau pemilu dilakukan hari ini,” ujar Ketua DPP Bidang Pemuda dan Olahraga PDIP Maruarar Sirait ketika memaparkan hasil survei ini di kantor DPP PDIP, di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Sebelumnya, hasil survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) yang dirilis di Jakarta, Rabu (7/6), menyebutkan, jika pemilihan umum (pemilu) digelar hari ini, Partai Golkar akan berada di urutan pertama.

“Jika pemilu legislatif dilaksanakan hari ini, parpol paling banyak dipilih responden adalah Partai Golkar dengan jumlah 505 responden atau 23 persen,” kata Koordinator SSS Muhammad Dahlan saat memaparkan hasil survei pemetaan capres 2014. PDI Perjuangan berada di urutan kedua, dengan 430 responden atau 19,6 persen dan Partai Demokrat sebanyak 235 responden (10,7 persen).

Maruarar menjelaskan, populasi survei adalah mereka yang berusia di bawah 30 tahun sesuai dengan UU Pemuda dan menjadi pemilih pemula atau pemilih yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2014.

Survei dilakukan di 33 provinsi seluruh Indonesia dengan jumlah responden 1.200 orang. Margin of error 3,0 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen. Survei dilakukan pada 8-19 Mei 2012.

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka secara langsung, dengan menggunakan kuesioner. PDIP memercayakan survei dilakukan IndoBarometer. Tujuan survei, tutur dia, yaitu untuk mengevaluasi kinerja partai dan untuk mengetahui tingkat elektabilitas para pemilih muda kepada parpol.

Pertanyaan yang diajukan kepada responden adalah, “seandainya pemilu legislatif dilaksanakan hari ini, parpol apa yang akan Anda pilih untuk tingkat DPR Pusat atau DPR?”. Survei membuktikan, Golkar meraih 15,8 persen, PDIP 13,9 persen, Gerindra 9,9 persen, dan Partai Demokrat 6,8 persen.

Menurut Maruarar, pertanyaan lain yang diajukan kepada responden adalah “seandainya pemilu legislatif dilaksanakan hari ini dan ada 10 parpol, parpol apa yang akan Anda pilih untuk DPR?”.

Hasilnya, Golkar mendapat 16,8 persen, PDIP 13,7 persen, Gerindra 9,8 persen, dan Partai Demokrat meraih 7 persen.

“Ini untuk membuktikan dalam survei bahwa kita objektif. Meski kita yang mengadakan survei, ternyata kita belum dipilih anak muda sebagai partai nomor satu. Yang paling tinggi itu Golkar, kita hanya beda sekitar dua persen. Nomor dua baru kita, dan ketiga Gerindra,” ujar Maruarar.

Sementara itu, internal Partai Demokrat sendiri mengakui popularitas partainya runtuh karena tersandera kasus dugaan korupsi proyek wisma atlet dan Hambalang di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

“Kalau sekarang elektabilitas Partai Demokrat turun, akibat partai kami disandera. Polling internal terakhir yang saya dengar, elektabilitas Partai Demokrat tinggal sekitar sepuluh persen,” kata Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul kepada wartawan di gedung DPR, Jakarta, Kamis (7/6).

Pandangan senada disampaikan Ketua DPP Partai Demokrat Soetan Bhatoegana. Menurut Soetan, keterpilihan Partai Demokrat di tingkat pemilih pemula belum maksimal. Akibatnya, sampai sekarang polling yang ditujukan di kalangan generasi muda menunjukkan Partai Demokrat hanya mendapat simpati sebesar 7 persen. Upaya untuk mendongkrak popularitas Partai Demokrat terus dilakukan melalui jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook.

“Melalui twitter dan facebook kita terus lakukan. Kita juga lakukan sowan, satu orang satu kawan, sekarang satu orang satu pasukan,” ucap Sutan.

Sementara itu, Partai Golkar bersyukur karena unggul dalam sejumlah survei. Meski sudah menempati posisi teratas, Partai Golkar tetap akan melakukan konsolidasi.

“Golkar menjadi kuat karena ditopang basis-basis yang didirikan,” kata Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso.

Namun, Priyo menyadari pemilu masih lama. Segala situasi politik masih dinamis dan bisa saja berubah setiap waktu. Menurut dia, meski tak pernah lupa bagaimana kemenangan pemilu tergantung bagaimana rakyat pemilih.

“Kami tahu Golkar belum sempurna, tetapi kami berusaha maksimal mungkin untuk memperjuangkan aspirasi rakyat. Golkar adalah partai tengah, sebagai partai tengah, sejuk, dan moderat, mudah-mudahan menjadi pilihan rakyat,” katanya.

Sementara itu, Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham meyakini Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) pada saatnya akan menjadi nomor satu, meski hasil survei yang dilakukan Soegeng Sarjadi Syndicated (SSS) masih berada di posisi keempat.

“Kami punya keyakinan pada saatnya ARB akan berada pada posisi satu. Golkar yakin akan memenangkan pileg dan pilpres,” kata Idrus di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, kemarin.

Menurut Idrus, selama ini partainya belum menjalankan tiga langkah penting bagi pemenangan ARB. Pertama, rangkaian kunjungan ke daerah ARB belum menjangkau seluruh wilayah. Kedua, program karya- kekaryaan yang dicanangkan Partai Golkar belum berjalan. Ketiga, program 1.204 anggota dewan belum maksimal berjalan.

Sementara itu, guru besar ilmu politik Universitas Indonesia (UI) Prof Iberamsjah mengatakan, hasil survei SSS yang menyebutkan DPR sebagai lembaga terkorup, untuk mengingatkan agar parlemen mendengarkan aspirasi rakyat.

Sebab, menurut dia, apa yang menjadi pengamatan masyarakat terhadap DPR, termasuk soal hilangnya kepercayaan masyarakat kepada DPR, sama dengan apa yang disimpulkan hasil survei tersebut.

“Tidak aneh hasil survei itu memang nyambung dengan apa yang berkembang di masyarakat. Kalau SSS menyebutkan DPR sebagai lembaga terkorup, saya kira yang dimaksud bukan hanya korupsi materi atau korupsi duit, melainkan juga korupsi kepercayaan masyarakat dan sebagainya. DPR sekarang menjadi lembaga yang sudah tidak dipercaya lagi oleh rakyat,” kata Iberamsjah.

Hasil survei yang menyatakan DPR sebagai lembaga paling korup mengundang keprihatinan Ketua DPD Irman Gusman. Irman mengatakan, hasil survei tersebut menunjukkan tidak adanya lembaga pengawasan terhadap lembaga parlemen.

“Kekuasaan DPR luar biasa, tanpa check and balance yang seimbang. Inilah sebabnya negara kita yang menganut sistem demokrasi ini. DPR dan DPD harus saling mengawasi, saling check and balance,” ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (7/6).

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PKS Aboe Bakar Al-Habsy mengaku sedih bila publik menilai DPR sebagai lembaga paling korup.

“Saya bisa pahami bila lebih dari 40 persen dari dua ribu responden menyatakan bahwa DPR adalah lembaga yang korup. Hal ini tidak lain karena setahun terakhir, bangsa ini diterpa persoalan korupsi yang selalu melibatkan orang Senayan. Sebut saja kasus Hambalang dan wisma atlet. Saya berharap, ini menjadi introspeksi yang mendalam buat lembaga parlemen, kita harus segera berbenah,” ujarnya. (Feber S/Kartoyo DS/Sugandi)

Sumber


No Comments so far.

Leave a Reply